Artikel

Refleksi Tahun Baru 2017 : Menatap Masa Depan Tanpa Membungkam Masa Lalu

Penghujung tahun kian dekat, itu artinya tahun baru pun akan segera tiba meninggalkan berbagai kisah untuk cerita dan harapan yang akan kita hadapi nanti. Plot perjalanan satu tahun ibarat perputaran bisnis dalam satu periode.

Ada saatnya dimana kita harus tutup buku, menghitung laba-rugi selama satu tahun penuh. Baik laba ataupun rugi tentu kita harus mencari sebab akibatnya. Kenapa bisa demikian, apa yang salah dan apa yang perlu dibenahi dan dipertahankan.

Kurang lebih begitulah refleksi diri yang perlu kita renungi jika ingin menjadikan pergantian tahun tidak sekedar hura-hura yang menenggelamkan kita dalam gemuruh terompet dan semarak kembang api yang melangit.

Tahun baru tentu memberikan persepsi yang berbeda bagi setiap individu. Bergantung pada kadar kesadarannya dalam menjadikan hidup lebih bermakna.

Hidup ini hanyalah sebuah siklus, tidak ada sesuatu yang baru, sebab yang ada hanyalah sesuatu yang telah ada sejak dahulu. Seperi kata Parmenides, kita hidup di dunia yang sarat akan pengulangan.

Tahun baru pun demikian. Kita hanya mengulangi momentum yang sejatinya sudah pernah kita lakukan. Kita hanya perlu melihat kebelakang, memperbaiki yang perlu diperbaiki dan melakukan apa yang belum kita lakukan.

Akan tetapi, refleksi sejati tidaklah demikian. Melihat masa lalu tanpa menatap masa depan jelas merupakan kekeliruan besar, kecuali jika kita merupakan pengikut setia si Parmenides ini.

Jika masa lalu kita jadikan sebagai poin utama dalam sebuah refleksi diri, maka percayalah kita takkan pernah bisa move on.

Mengenang masa lalu itu perlu, sama perlunya dengan menatap masa depan. Pun demikian dengan menatap masa depan, kita tak perlu membungkam masa lalu. Keduanya harus sejalan, sebuah tesis dan antitesis yang harus kita sintesiskan.

Terjebak dalam pandangan masa depan yang berlebihan bisa membuat kita senantiasa menginginkan segala sesuatu yang serba baru. Jabatan baru, rumah baru, mobil baru, dan mungkin pasangan hidup yang baru.

Sebaliknya, mengandalkan gaya Parmenides saja, kita akan terjebak pada nostalgia masa lalu yang miskin warna warni kehidupan. Keseharian kita akan sangat membosankan, tidak ada pergerakan dan dinamika bahkan tanpa gairah.

Untuk itu, dalam menyambut tahun baru 2017 ini kita perlu refleksi diri yang benar-benar menyeluruh, berkaca atas diri kita yang telah terlewatkan selama satu tahun penuh dan optimis melangkah tanpa takut tersandung. Itu saja, intinya selamat tahun baru, dan mari kita merefleksikan diri kita masing-masing. Karena seperti kata seorang filsuf fenomenal, “hidup yang tidak direfleksikan, tidak pantas untuk dihidupi – Socrates”.

Baca juga: Ucapan Tahun Baru 2017 Bahasa Inggris dan Indonesia