Agnostik Pun Jadi Pilihan Saat Agama Tak Lagi Bersahabat

Salah satu bentuk kemunduran manusia dalam hidup bermasyarakat adalah ketika menjadikan agama sebagai alat untuk menjustifikasi orang lain. Menganggap bahwa dirinya benar bahkan berada di puncak kebenaran, dan menganggap tindakan orang lain sebagai bentuk kesalahan berdasar keyakinan yang dianutnya, jelas ini merupakan sebuah Kekeliruan.

Di jaman sekarang kita tak lagi asing dengan keadaan semacam ini. Ketika agama dijadikan alat menuduh, memaksakan kebenaran, untuk keyakinan yang bahkan tidak diketahuinya.

Tak heran jika kemudian muncul orang-orang yang mempertanyakan esensi dari hidup beragama itu seperti apa, yang sebenarnya? Apakah masih pantas agama dianggap sesuatu yang sakral dan suci disaat keberadaannya menjadi alasan munculnya berbagai konflik dan peperangan?

Kondisi semacam ini menjadi alasan tersendiri bagi orang-orang yang kemudian mengasingkan dirinya dari area dogma agama, berada dalam kehampaan spiritual, namun memiliki skeptisisme yang tinggi akan keberadaan maupun ketiadaan Tuhan, keadaan  inilah yang dikenal dengan sebutan agnostik.

Agnostik tentu berbeda dengan atheis. Jika Atheis menafikan keberadaan agama maupun Tuhan, mereka yang agnostik memiliki keyakinan akan kekuasaan Tuhan namun menyayangkan keberadaan agama yang hanya dijadikan alat dogmatis untuk memaksakan kehendak dan keyakinan orang lain.

Kita bisa saja rajin ke masjid, tak pernah absen ke gereja, selalu ke pura dan wihara, tetapi siapa yang bisa mengukur kekhidmatan kita terhadap Tuhan, selain Tuhan sendiri? Agnostik memilih cara mereka sendiri, beribadah dengan cara mereka, yang tidak menyakiti orang lain, tidak disakiti orang lain.

Kata Kata Bijak IslamiBaca juga: Kata Kata Bijak Islami Sebagai Nasehat Kehidupan

Mengutip kata kata Clarence Darrow yang seorang penganut agnostik,  ” “Aku tidak menganggap bahwa disebut agnostic adalah hinaan, tetapi itu lebih merupakan pujian. Aku tidak berpura-pura tahu ketika banyak orang yang tidak tahu justru yakin.

Lagi-lagi skeptisnya orang Agnotik akan keberadaan Tuhan sangatlah tinggi. Meski mereka tak lagi terikat dengan dogma agama, namun mereka menyadari bahwa ada realitas tertinggi di alam semesta yang memiliki kekuasaan mutlak atas berbagai kehidupan yang ada di jagat ini.

Kehadiran agnostik tentu merupakan implikasi dari praktik agama yang tak lagi humanis. Mereka yang agnostik memiliki kritik yang konstruktif akan sistem keberagamaan yang akhir-akhir ini didominasi oleh wajah kaku dan menyeramkan alih-alih mendamaikan dan menyejukan serta menentramkan.

Berbeda dengan atheis yang menghujat Tuhan ataupun kauh theis (beragama) yang saling klaim bahwa agamanya yang paling benar, agnostik menganggap yang terpenting dari hidup ini adalah bagaimana kita bisa menjalin hubungan yang baik sesama manusia.

Seorang yang memilin jalan hidup agnostik bisa saja dulunya adalah orang yang taat beragama. Namun kenyataan pahit yang menggerogoti jubah agama membuatnya muak dan memilih terbebas dari dogma yang menurutnya tak humanis itu. Ia memilih jalannya sendiri untuk mengabdi dan berkhidmat kepada Tuhan.

Jika agama ada untuk membumikan ajaran Tuhan, apakah Tuhan mengajarakan manusia kebencian dan kedengkian? Jika didalam agama kita didoktrin untuk saling benci, apakah masih pantas itu dikatakan jalan keselamatan?

Ibnu Arabi pernah menulis :

Pada mulanya hanya ada cinta. Dialah Cinta (al-Hubb) sekaligus Sang Pencinta (al-Muhibb). Dari nafas-Nya, angin cinta berhembus, lalu menjelmalah jagad semesta. Manusia, hewan, tumbuhan, bumi, langit, dan bintang gemintang adalah wujud cinta-Nya. Barang siapa yang hatinya dipenuhi cinta maka semakin dekatlah ia kepada-Nya. Barang siapa yang pikirannya hanya berisi rasa iri, dengki, dan benci, maka semakin jauhlah ia dari-Nya.

motivasi bagi para perantauBaca juga: Nasehat dan Motivasi Bagi Para Perantau